PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD TERHADAP HASIL BELAJAR


PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA DALAM MATA PELAJARAN MEMASANG PERALATAN BANTU SISTEM DISTRIBUSI

BAB I

PENDAHULUAN

 A.    Latar Belakang

Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan faktor yang dapat mempercepat terjadinya perubahan dalam masyarakat dan mempengaruhi kehidupan manusia secara lansung maupun tidak lansung dalam usaha mengembangkan ilmu pengetahuan. Penguasaan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi akan menjadi sasaran yang ampuh untuk menghadapi jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan dalam proses mendapatkan lapangan pekerjaan.

Guru merupakan salah satu komponen penting dalam proses pembelajaran.  Guru  membekali siswa dengan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai yang terkandung dalam setiap mata pelajaran. Oleh karena itu SMK memuat program produktif yang berfungsi untuk membekali siswa agar memiliki kompetensi atau keahlian tertentu yang relevan dengan tuntutan dan permintaan pasar kerja. Program produktif berbasis kompetensi menekankan pada pembekalan penguasaan kompetensi kepada siswa yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan, dan tata nilai secara tuntas dan utuh. Memasang Peralatan Bantu Sistem Distribusi  (MPBSD) merupakan salah satu mata pelajaran dalam program produktif.

Mengingat pentingnya peranan bidang studi MPBSD, maka proses pembelajaran dalam bidang studi ini di SMK, khususnya jurusan Teknik Listrik, perlu mendapatkan perhatian yang sungguh-sungguh dari semua pihak yang terkait, karena SMK menyiapkan siswa untuk menghadapi lapangan kerja dan mengembangkan sikap professional.

Berdasarkan hasil temuan dilapangan dan wawancara yang penulis lakukan pada waktu melaksanakan PPLK dengan Guru mata pelajaran TDTL,

pada umumnya dalam menyajikan materi pelajaran memasang peralatan bantu sistem distribusi (MPBSD) Guru lebih dominan  menggunakan metode ceramah dan siswa mendengarkannya begitu saja. Guru juga jarang menggunakan media selain media papan tulis karena keterbatasan fasilitas dari pihak sekolah dan kurangnya pengetahuan guru tentang produksi media pembelajaran. Metode ceramah yang biasa digunakan guru ini dirasa kurang efektif dalam menyampaikan materi pelajaran karena dalam hal ini kedudukan dan fungsi guru cenderung lebih dominan. Hal ini menyebabkan siswa terlihat pasif dan mereka hanya menerima begitu saja informasi-informasi yang disampaikan oleh guru tanpa adanya pemahaman yang lebih mendalam. Hal ini ditunjukkan oleh rata-rata nilai siswa masih banyak yang di bawah standar ketuntasan minimum. Standar ketuntasan minimum (SKM) untuk mata pelajaran Memasang Peralatan Bantu Sistem Distribusi adalah 7,00. Berdasarkan SKM dapat dijelaskan bahwa jumlah siswa yang sudah mencapai SKM adalah 40% untuk siswa kelas TDTL A dan 31,8% untuk siswa kelas TDTL B (Tabel 1.1).

 

 

Table 1.1. Persentase Ketuntasan Siswa dalam Mata Pelajaran MPBSD

SKM

XII TDTL A

XII TDTL B

 

Jmlh

%

Jmlh

%

> 70

< 70

10

15

40

60

7

15

31,8

68,2

Jumlah

25

-

22

-

Sumber : Guru bidang studi di SMK

Pada hakikatnya belajar merupakan salah satu bentuk kegiatan individu dalam usahanya untuk memenuhi kebutuhan. Tujuan pembelajaran adalah untuk memperoleh hasil yang optimum. Tujuan ini akan tercapai jika siswa terlibat secara aktif, baik fisik maupun emosinya, dalam proses pembelajaran. Disamping itu siswa ikut berpartisipasi, mencoba, dan mempelajari sendiri topik yang akan diberikan. Dalam pembelajaran, fungsi guru adalah menciptakan kondisi belajar yang memungkinkan siswa berkembang secara optimum.

Setiap siswa memiliki kemampuan yang berbeda dalam menerima pelajaran yang dijelaskan guru. Untuk meminimumkan perbedaan tersebut maka siswa dibentuk secara berkelompok agar siswa saling melengkapi, dan bekerjasama dalam menyelesaikan soal-soal atau tugas yang diberikan oleh guru. Salah satu metode pembelajaran yang dapat diterapkan adalah metode pembelajaran kooperatif (cooperative learning). Metode pembelajaran kooperatif mencakup kelompok kecil siswa yang bekerja sebagai sebuah tim untuk menyelesaikan masalah, tugas, atau untuk mengerjakan sesuatu untuk mencapai tujuan bersama lainnya. Salah satu bentuk metode pembelajaran kooperatif adalah STAD. Menurut Suherman (2003:260) inti dari STAD adalah guru menyampaikan materi, kemudian siswa bergabung dalam kelompoknya yang terdiri atas empat atau lima orang untuk menyelesaikan soal-soal yang diberikan oleh guru. Setelah selesai mereka menyerahkan pekerjaannya untuk setiap kelompok kepada guru. Menurut Purwanti (2002) model pembelajaran kooperatif yang mudah diterapkan ,luas aplikasinya dan melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya adalah model STAD, model ini meliputi: 1) penyajian kelas, 2) belajar kelompok, 3) tes/kuis, 4) skor kemajuan individu, 5) penghargaan kelompok.

Berdasarkan uraian di atas perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap hasil belajar siswa dalam mata pelajaran Memasang Peralatan Bantu Sistem Distribusi.

About these ads
Categories: Skripsi | Tags: , , | Tinggalkan komentar

Post navigation

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: