ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PENENTU BASIS PEREKONOMIAN DI PROPINSI SUMATERA BARAT


ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PENENTU BASIS PEREKONOMIAN DI PROPINSI SUMATERA BARAT

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.    Latar Belakang Masalah

Sektor basis merupakan sektor andalan oleh suatu daerah dalam menyerap tenaga kerja maupun sebagai sumber terbesar dari PDRB, tak terkecuali bagi Propinsi Sumatera Barat. Jadi sangat penting untuk menjaga kinerja atau tingkat pertumbuhan dan perkembangan dari sektor tersebut. Selain sebagai sektor terbesar di suatu daerah, tentunya setiap perkembangannya akan menimbulkan multiplier effect pada sektor-sektor lainnya.

Suatu sistem perekonomian didukung melalui kontribusi sektor-sektor atau lapangan usaha yang diusahakan oleh sistem tersebut. Sektor-sektor tersebut mengolah potensi dan sumber daya yang ada di sistem tersebut dan memberikan hasil yang nyata dan tertuang dalam bentuk pendapatan dan Produk Domestik Bruto (PDB). Sektor-sektor tersebut secara umum terbagi atas sembilan bidang yaitu :

  1. Pertanian yang terdiri dari : tanaman pangan dan hortikultura, perkebunan, peternakan, kehutanan dan perikanan.
  2. Pertambangan dan penggalian yang terdiri dari : migas dan gas bumi, nonmigas dan penggalian.
  3. Industri pengolahan yang terdiri dari : industri migas dan non migas.
  4. Listrik, gas dan air bersih.
  5. Bangunan.
  6. Perdagangan, hotel dan restoran.
  7. Pengangkutan dan komunikasi.
  8. Keuangan, persewaan dan jasa perusahaan.
  9. Jasa-jasa yang terdiri dari : pemerintahan umum dan pertahanan serta jasa swasta.

Tiebot dalam Tarigan (2004;39) mengemukakan bahwa terdapat beberapa faktor yang menjadi faktor penentu terbentuknya sektor basis tersebut. Investasi  terutama oleh pihak swasta adalah faktor terpenting bagi jalannya sebuah usaha. Investasi dilakukan sebagai langkah awal dalam kegiatan produksi, serta untuk menambah barang modal di dalam perusahaan. Berdasarkan data yang didapat bahwa investasi swasta dalam beberapa tahun terakhir di Propinsi Sumatera Barat cenderung mengalami perkembangan yang positif. Dari tabel berikut dapat dilihat hal tersebut.

Tabel 1:Total Investasi Di Propinsi Sumatera Barat Menurut Harga Konstan tahun 1993 dan Harga Berlaku (Dalam Milyar Rupiah)

tahun Investasi total
Harga berlaku Harga konstan
1999 4.051,14 1.425,84
2000 4.064,72 1.553,00
2001 4.942,38 1.609,92
2002 6.233,13 1.725,43

Sumber: Badan Pusat Statistik Sumatera Barat 2003

Faktor penting lainnya adalah faktor tenaga kerja yang diserap oleh sektor tersebut. Tenaga kerja adalah input yang sangat penting dalam produksi karenanya tidak salah apabila tenaga kerja juga menjadi faktor yang sangat menentukan tidak saja bagi perusahaan, tetapi juga bagi kondisi ekonomi secara makro. Data berikut disajikan jumlah tenaga kerja yang diserap oleh berbagai sektor di Propinsi Sumatera Barat.

Tabel 2: Persentase Penduduk Usia 10 Tahun Ke Atas

Yang Diserap Oleh Berbagai Sektor

Sektor 1999 2000 2001 2002 2003
Pertanian 48,25 49,27 49,62 50,30 51,36
Industri   8,19 7,44 7,86 6,87
Perdagangan 21,39 20,02 19,96 18,10 17,57
Jasa-jasa 14,78 12,805 12,32 14,87 13,33
Lainnya   9,725 10,66 8,93 10,87

Sumber: Badan Pusat Statistik Sumatera Barat 2003

Dari data diketahui bahwa sektor pertanian adalah sektor utama dalam penyerapan tenaga kerja dengan perkembangan yang positif setiap tahunnya. Dari 49,27% tahun 2000, meningkat menjadi 49,62% (2001), 50,30% (2002) dan pada tahun 2003 menjadi 51,36%. Sektor selanjutnya ialah sektor perdagangan tetapi perkembangannya cenderung menurun setiap tahunnya, seperti juga sektor industri.

Pemerintah Daerah sejak disyahkan dan berlakunya otonomi daerah melalui Undang-undang no 22 dan 25 tahun 1999, memegang peranan yang sangat penting dalam pengaturan perekonomian daerah. Besar atau kecilnya perhatian yang diberikan pemerintah terhadap sektor-sektor perekonomian akan berpengaruh cukup signifikan terhadap perekonomian di daerah tersebut. Kenyataan di Propinsi Sumatera Barat, menunjukkan bahwa pengeluaran rutin masih lebih rendah daripada pengeluaran pembangunan yang notabene dialokasikan terhadap sektor-sektor perekonomian, bahkan pada tahun 2002 mengalami penurunan dibanding tahun 2001. Hal ini dapat dilihat dalam tabel berikut,

Tabel 3: Anggaran Belanja Daerah Propinsi Sumatera Barat Menurut Jenis Pengeluaran (Dalam Ribuan Rupiah)

Tahun Jenis pengeluaran
Rutin Pembangunan
1999 107.387.339 91.931.399
2000 112.350.158 117.063.578
2001 258.617.739 131.111.709
2002 321.930.680 130.447.480

Sumber: Indikator Ekonomi SumBar. Badan Pusat Statistik  Sumatera Barat 2003

Efisiensi dalam usaha adalah faktor penting lainnya yang membuat terbentuknya sektor basis. Penggunaan sumber daya secara tepat guna adalah hal yang mutlak diperlukan dalam sebuah usaha, terutama dalam hal penggunaan  modal yang ada dan telah ditanamkan di dalam perusahaan, yang dapat diketahui melalui metode ICOR (Incremental Capital Output Ratio).

Tabel 4.  Koefisien ICOR Propinsi Sumatera Barat Periode 1989-2003 Menggunakan Metode Standar.

Lapangan usaha Lag 0 Lag 1 Lag 2
Pertanian 3,20 2,86 3,00
Pertambangan 0,30 0,19 0,14
Industri 6,82 6,86 7,25
Listrik, gas dan air minum 2,97 2,66 2,33
Bangunan 7,63 7,47 7,46
Perdagangan 6,00 6,07 6,03
Pengangkutan dan komunikasi 4,34 4,11 3,38
Keuangan 4,46 4,08 3,73
Jasa-jasa 4,03 4,03 4,06

Sumber: Investasi dan ICOR Sumatera Barat. BPS 2003

Dari tabel di atas diketahui bahwa sektor pertambangan dan penggalian merupakan sektor yang paling efisien, terlihat dari koefisien ICOR nya yang paling rendah baik dengan lag 0, lag 1 maupun lag 2. Pada lag 0 koefisien ICOR sektor ini adalah 0,30,artinya untuk menghasilkan satu unit tambahan output diperlukan 0,30 unit modal. Sedangkan sektor yang paling tidak efisien adalah sektor bangunan, contohnya pad lag 0 untuk menghasilkan satu unit tambahan output diperlukan 7,63 unit investasi

Faktor lainnya yang juga sangat mempengaruhi terbentuknya sektor basis adalah kondisi geografis suatu daerah. Daerah yang kondisi geografisnya mendukung berkembangnya sektor pertanian, cenderung menciptakan sektor basis di bidang pertanian, begitu juga sebaliknya.

Mengingat begitu pentingnya sektor basis bagi perekonomian suatu daerah, karenanya menarik untuk dibahas mengenai “Analisis Faktor-faktor Penentu Basis Perekonomian di Propinsi Sumatera Barat”.

Categories: Skripsi, Tesis | Tags: , , , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: