Skripsi : Model Pembelajaran Kooperatif dengan Pola Berpasangan Berempat Terhadap Hasil Belajar Fisika


Model Pembelajaran Kooperatif dengan Pola Berpasangan Berempat Terhadap Hasil Belajar Fisika Siswa Kelas X di SMA Pertiwi 1 Padang

BAB 1

 PENDAHULUAN

 

 A.     LATAR BELAKANG

Teknologi merupakan aplikasi kreatif dari ilmu pengetahuan. Salah satu faktor penunjang perkembangan teknologi yang mengantarkan manusia bisa menikmati teknologi adalah fisika. Fisika merupakan dasar dari ilmu pengetahuan modern dan juga mempunyai potensi besar dalam menyiapkan sumber daya manusia untuk menghadapi era industrialisasi dan globalisasi. Potensi ini dapat terwujud jika pembelajaran fisika mampu membentuk siswa yang cakap dan berhasil menumbuhkan kemampuan berfikir logis, bersifat kreatif, serta inisiatif terhadap perubahan dan perkembangan zaman.

Nurhadi (2002:1) mengemukakan bahwa dewasa ini ada kecendrungan untuk kembali pada pemikiran bahwa siswa akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah. Belajar akan lebih bermakana jika siswa mengalami apa yang dipelajarinya dan bukan mengetahuinya. Pembelajaran yang berorientasi pada target penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi mengingat jamgka pendek tetapi gagal dalam membekali siswa memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang.

Sejauh ini pendidikan kita khususnya pada pembelajaran fisika masih didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan merupakan seperangkat fakta-fakta yang harus dihafalkan siswa. Kelas masih terfokus kepada guru sebagai sumber utama pengetahuan, kemudian ceramah dan latihan rutin menjadi pilihan utama strategi belajar. padahal belajar lebih dari sekedar mengingat prinsip dan konsep fisika. Bagi siswa, untuk benar-benar mengerti dan dapat menerapkan ilmu pengetahuan mereka harus bekerja untuk memecahkan masalah fisika, menemukan sesuatu bagi dirinya sendiri dan selalu bergulat dengan ide-ide. Tugas pembelajaran fisika tidak hanya menuangkan atau menjejalkan sejumlah informasi kedalam benak siswa, tetapi mengusahakan bagaimana agar konsep-konsep fisika penting dan sangat berguna tertanam kuat.

Sehubungan dengan hal di atas bila dikaitkan dengan tuntutan kurikulum dengan telah diterapkan cara belajar siswa aktif dan pembelajaran yang berorientasi kepada siswa maka dalam proses pembelajaran fisika siswa hendaknya tidak sekedar menerima informasi, mengingat, dan menghafal, tetapi siswa dituntut harus bekerja untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu bagi dirinya, melibatkan diri secara aktif, serta memperkaya diri dengan ide-ide.

Kenyataan di lapangan yang penulis temukan, siswa masih beranggapan bahwa pelajaran fisika itu pelajaran yang sulit, pelajaran yang kurang  menarik dan serat dengan rumus-rumus. Dalam proses pembelajaran siswa beranggapan bahwa pembelajaran fisika merupakan kegiatan menghitung secara matematika saja, siswa kurang memahami makna fisisnya. Akibatnya siswa tidak tahu manfaat fisika dalam kehidupan sehari-hari, selain itu juga mendapatkan hasil yang kurang memuaskan. Salah satu data yang dapat dilihat adalah rata-rata Nilai Evaluasi Murni (NEM) fisika siswa lulusan SMA Pertiwi 1 Padang.

 

 

Tabel 1. Rata-rata Nem Fisika Siswa SMA Pertiwi 1 Padang.

No Tahun Pelajaran Nilai Evaluasi Murni
1 1996 – 1997 3.12
2 1997 – 1998 2.95
3 1998 – 1999 3.61
4 1999 – 2000 3.70
5 2000 – 2001 3.33
6 2001 – 2002 2.57
7 2002 – 2003 6.51
8 2003 – 2004 4.38
9 2004 – 2005 5.43

Sumber : Tata usaha SMA Pertiwi 1 Padang.

Hal lain yang penulis temukan di lapangan adalah bahwa siswa  berfikir karena belajar di sekolah swasta mereka beranggapan ketinggalan dari sekolah negeri sehingga kebanyakan di antara mereka dalam pembelajaran hanya menghandalkan apa yang diberikan oleh guru, dengan kata lain mereka masih bersifat pasif. Gejala lain yang terlihat dalam pembelajaran siswa cenderung diam, hal ini terlihat disaat pembelajaran berlangsung sedikitnya siswa yang aktif untuk memberikan pertanyaan dan umpan balik.

Suatu strategi belajar fisika yang baru dibutuhkan untuk memberdayakan siswa yaitu startegi belajar yang tidak mengharuskan siswa mwenghafalkan fakta-fakta tetapi sebuah strategi yang mendorong siswa untuk membangun pengetahuannya. Dalam sistem pembelajaran perlu dikembangkan kesempatan bagi siswa untuk mengekspresikan apa yang mereka ketahui dan apa yang belum mereka ketahui. Siswa perlu mengungkapkan gagasan dan pemikirannya dan dibantu untuk lebih berfikir dan merefleksikan pengetahuan merekaa. Dalam hal ini tugas guru adalah menjadi mitra yang aktif bertanya, merangsang pemikiran, menciptakan persoalan, membiarkan siswa mengungkapkan gagasan dan konsepnya, serta kritis menguji konsep siswa. kegiatan yang paling penting adalah menghargai dan menerima pemikiran siswa apapun adanya sambil menunjukkan apakah pemikiran itu jalan atau tidak. Hal ini menuntut guru untuk menguasai bahan secara luas dan mendalam sehingga dapat lebih fleksibel menerima gagasan siswa yang berbeda.

Pendekatan pembelajaran kooperatif bisa dijadikan tawaran yang dapat membantu siswa untuk membangun pengetahuan dan membangkitkan pemikirannya untuk bertanya  selama pembelajaran berlangsung. Karena salah satu komunikasi interaksi dalam pembelajaran adalah bertanya, sebab melalui pertanyaan siswa dapat melihat sejauh mana pengertiannya terhadap fakta yang dipelajari, didengar sehingga mereka memiliki pengertian yang mendalam tentang fakta tersebut.

Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu model pembelajaran motivasional yang diyakini mampu meningkatkan motivasi maupun hasil belajar siswa karena dalam pembelajarannya berorientasi kepada siswa yang melibatkan siswa secara emosional dan sosial dalam belajar. Dalam pengembangan model pembelajaran kooperatif jumlah anggota dalam kelompok bervariasi mulai dari dua sampai lima orang, karena jumlah kelompok tersebut akan berpengaruh terhadap jalannya proses pembelajaran. Dari segi struktur atau pola kegiatannya pun bervariasi, salah satu bentuk struktur atau pola pembelajaran kooperatif adalah berpasangan berempat.

Salah satu bentuk model pembelajaran kooperatifdengan pola berpasangan berempat adalah teknik sand-a-problem. Belajar melalui teknik send-a-problem ini mengajak siswa untuk belajar menyelidiki suatu konsep, mereview konsep. Kegiatan inti siswa adalah mencari, mendefinisikan masalah, mendisain hingga mampu mengkomunikasikan dan berinteraksi dengan kelompok lain. Selama fase mencari masalah siswa melakukan kegiatan identifikasi, pemilihan dan memperjelas permasalahan. Selanjutnya siswa diajak untuk mendisain rencana pemecahan dan merespon permasalahan yang ditemui, hingga akhirnya mereka mampu memformulasikan data atau jawaban yang diperolehnya menjadi sebuah informasi dan mengkomunikasikan data tersebut kepada orang lain.

Dengan teknik send-a-problem siswa dituntut untuk berpikir kritis dan bertindak kreatif serta menggunakan kekuatan pikiran secara menyeluruh dengan membuat pertanyaan untuk temannya, kemudian temannya mencaikan solusi atas pertanyaan yang didapatkannya. Siswa dilibatkan dalam melakukan eksplorasi situasi baru dalam mempertimbangkan dan merespon permasalahan secara kritis, dan menyelesaikan permasalahan secara bijaksana.

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis memandang perlu untuk melalukan penelitian lebih lanjut tentang pengaruh pembelajaran model pembelajaran kooperatif dengan pola berpasangan berempat terhadap hasil belajar fisika siswa. Atas dasar itu maka penelitian ini diberi judul “Model Pembelajaran Kooperatif dengan Pola Berpasangan Berempat Terhadap Hasil Belajar Fisika Siswa Kelas X di SMA Pertiwi 1 Padang”.

Categories: PTK, Skripsi | Tags: , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: