PERBEDAAN HASIL BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW DAN KONVENSIONAL


PERBEDAAN HASIL BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW DAN KONVENSIONAL PADA MATA PELAJARAN MRL KELAS X SMK N 2 PAYAKUMBUH

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan salah satu aspek pembangunan yang harus dikembangkan di samping aspek lainnya. Melalui pendidikan diharapkan bangsa ini dapat mengikuti perkembangan dalam bidang sains dan teknologi yang semakin berkembang. Beberapa upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan, di antaranya penyempurnaan kurikulum. Dari kurikulum 1994 sampai Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang mencakup semua mata pelajaran termasuk mata pelajaran Menganalisis Rangkaian Listrik (MRL) sebagai mata pelajaran produktif.

Menganalisis Rangkaian Listrik (MRL) merupakan salah satu mata pelajaran bagian produktif yang sangat penting, diberikan kepada siswa pada Program Studi Teknik Instalasi Tenaga Listrik di SMK N 2 Payakumbuh. MRL merupakan salah satu mata pelajaran yang mendidik, melatih dan menyiapkan siswa untuk mampu menguasai konsep Rangkaian Listrik dalam Bidang Kelistrikan. Pada mata pelajaran ini banyak materi-materi yang bersifat teori yang harus dibaca, dipelajari, dan dipahami oleh siswa. Hal ini disebabkan karena materi yang terkandung dalam MRL akan selalu terpakai dalam mata pelajaran yang lain, seperti Pengukuran Alat Ukur Listrik dan Pemasangan Instalasi Listrik.

Dari hasil observasi awal yang peneliti lakukan di SMKN 2 Payakumbuh ditemukan masih banyak hasil belajar MRL siswa kelas X TITL1 dan X TITL2 yang berada di bawah KKM yang ditetapkan oleh sekolah yaitu 70. Hal ini dapat dilihat pada tabel 1 sebagai berikut :

Tabel 1

Nilai ulangan harian MRL siswa kelas X SMK N 2 Payakumbuh semester ganjil tahun ajaran 2012/2013

Nilai

Hasil Belajar Siswa Kelas X

X TITL 1

(%) Tuntas

X  TITL 2

(%) Tuntas

≥ 70

9

30

11

37,93

< 70

21

70

18

62,07

Jumlah

30

100

29

100

Sumber : Guru mata pelajaran

Dari data di atas dapat dilihat bahwa dari 59 orang siswa hanya sebanyak 20 orang siswa yang mendapatkan nilai ≥ 70 dengan persentase 34% dan sebagian besar siswa mendapat nilai di bawah 70 sebanyak 39 orang siswa dengan persentase 66%. Dari masih banyaknya hasil belajar siswa di bawah KKM juga banyak di antara siswa yang tidak semangat belajar pada mata pelajaran MRL ini, siswa menganggap mudah dengan hanya kebanyakan teori saja dan siswa lebih cenderung membaca dan mencatat sehingga tidak menggunakan potensi yang dimilikinya untuk dapat menciptakan dan mengungkapkan ide-idenya serta gagasannya dalam belajar.

Metode yang digunakan guru masih pembelajaran berpusat pada guru (teacher centered). Guru menjelaskan semua materi pelajaran kepada siswa dengan metode konvensional (ceramah). Hal ini mengakibatkan siswa terbiasa untuk datang, duduk, dengar dan catat kemudian hafal materi tanpa berusaha menggali informasi dan memikirkan tentang materi pelajaran yang lebih dalam. Hal ini mengakibatkan kurang terlibatnya semua siswa secara aktif  dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, Guru sebagai salah satu komponen utama dalam proses pembelajaran diharapkan mampu menciptakan kondisi belajar sedemikian rupa sehingga dapat merangsang siswa untuk dapat belajar aktif. Guru harus memilih dan menggunakan strategi dan pendekatan, metode dan teknik yang banyak melibatkan siswa aktif dalam belajar sehingga pembelajaran dapat berlangsung dengan baik.

Salah satu usaha yang dapat dilakukan guru untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran MRL adalah dengan menerapkan metode pembelajaran yang menantang siswa, sehingga kompetensi setiap siswa bisa berkembang. Dengan demikian siswa aktif belajar dan mencari informasi sendiri. Sedangkan guru lebih banyak berperan sebagai komunikator, fasilitator dan motivator.  Semua usaha yang dilakukan dengan harapan dapat meningkatkan hasil belajar siswa kearah yang lebih baik sehingga hasil belajar siswa mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).

Dalam pembelajaran diperlukan guru yang kreatif yang dapat membuat kegiatan belajar menjadi lebih menarik dan disukai oleh siswa. Suasana kelas perlu direncanakan dan dibangun sedemikian rupa dengan menggunakan model pembelajaran yang tepat agar siswa dapat memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kemampuan yang dimiliki secara aktif. Salah satunya dengan cara meningkatkan interaksi dalam pembelajaran tidak hanya interaksi antara siswa dengan guru tapi juga interaksi di antara para siswa karena menurut Nur (dalam Triyanto 2007: 14) “ Interaksi sosial dengan teman sebaya, khususnya berargumentasi dan berdiskusi membantu memperjelas pemikiran yang pada akhirnya memuat pemikiran itu menjadi logis”. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, dalam proses pembelajaran diperlukan interaksi aktif di antara siswa untuk mengembangkan kemampuan yang dimilikinya.

Untuk mengatasi masalah di atas, salah satu model pembelajaran yang dapat membuat siswa aktif dan meningkatkan interaksi siswa dalam belajar adalah pembelajaran kooperatif tipe jigsaw.

Menurut Muslimin (2000: 21)

Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif dimana siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4-6 orang yang bekerja sama dan bertanggung jawab atas ketuntasan bagian materi pelajaran yang harus dipelajari, kemudian penyampaian materi tersebut kepada anggota kelompok yang lain.

 

Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dirancang untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Dari hasil pengamatan juga diketahui bahwa pembelajaran dengan metode konvensional (ceramah) dan tanya jawab yang biasa dilakukan di sekolah pada mata pelajaran MRL menyebabkan sebagian besar siswa kurang aktif dalam belajar sehingga tanggung jawab siswa terhadap pembelajaran kurang. Dengan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw siswa dilatih untuk memiliki rasa tanggung jawab. Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut kepada anggota kelompoknya yang lain dalam belajar siswa berusaha untuk mencapai ketuntasan belajar bersama. Berdasarkan uraian di atas perlu dilakukan penelitian tentang perbedaan hasil belajar siswa dalam pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dan konvensional pada mata pelajaran MRL kelas X SMK N 2 Payakumbuh.

Categories: PTK, Skripsi | Tags: , , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: